Sunday, August 16, 2015

PRIORITAS JENIS KENDARAAN


Tulisan pemikiran ini khususnya ditujukan kepada pemerintah selaku pembuat perencanaan dan kebijakan, buat wakil rakyat yang terhormat, yang bolehlah kiranya sedikit berbesar hati memahami tulisan ini di sela-sela jadwal yang padat, buat rakyat sejawat yang sehari-hari harus unjuk kebolehan di jalanan yang sarat. Dan buat aparat,  yang bagi mereka segala pelanggaran harus disikat.

Bapak Pejabat dan wakil rakyat yang sangat saya hormati, rekan sejawat, serta anggota aparat yang selalu merespon cepat, sebelum berbicara panjang lebar ijinkan saya untuk menceritakan keadaan alat transportasi yang saya miliki. Hal ini juga untuk menjamin objektivitas pemikiran saya dan agar tidak disebut iri karena tidak punya mobil. Keluarga saya terdiri dari empat orang yaitu saya sendiri, istri dan dua orang anak. Sedangkan kendaraan terdiri dari satu unit mobil sedan merk ADNOH (gunakan spion please..) warna putih, mobil ini cantiknya bukan main Pak, nyaman empuk eyup, ACnya suejuk, kaga’ malu-maluin di jalan dah pokokna, lalu dua unit sepeda motor; satu transmisi manual satu lagi matic, terus satu unit sepeda BMX, satu unit sepeda MTB NOGYLOP (lagi-lagi pakai spion please..), satu city bike juga NOGYLOP, dan satu lagi sepeda tua merk entahlah, sepeda pos, pemberian dari Bapak saya yang didapat beliau saat masa-masa awal berdinas sebagai pengantar surat di Kantor Pos Yogyakarta era 70an.

Khusus untuk mobil putih cantik tadi, kondisinya JARAN NGAMPET alias JARANg dipakai kecuali kondaNGAn Mantenan atau kepePET. Dipakai kondangan mantenan karena sekeluarga ikut, kepepet karena misalnya sekeluarga besar sowan ke mBah Buyutnya anak-anak yang memang masih sugeng dan alhamdulillah sehat wal afiat. 

Sekarang masuk ke topik pembicaraan tentang kondisi lalu lintas dan jalan raya di negara kita, terutama di kota-kota besar yang padat dan sering macet. Penyebabnya dapat diketahui dengan logika yang sangat sederhana, yaitu : dengan kondisi dan kebijakan pemerintahan yang sudah-sudah, pertambahan jumlah kendaraan selalu lebih cepat daripada pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan.

Dan, padune (kata dalam Bahasa Jawa, padanan dalam Bahasa Indonesia tidak ada yang pas) masyarakat yang merasa kaya (buktinya punya mobil pribadi) tidak mau beralih menggunakan kendaraan roda dua karena gengsi, wacana di masyarakat seakan diarahkan bahwa yang lebih memacetkan adalah sepeda motor, yang notabene merupakan kendaraan roda dua (KR-2) yang hemat ruang. Hemat ruang di jalan dan di parkiran.
Bahkan selama ini kesan negatif pengendara sepeda motor lebih sering ditonjolkan, yang ugal-ugalan lah (sifat pengendara, pengemudi mobil yang begini juga sak bajeg), yang sering naik trotoar (karena di jalan penuh mobil), menyalib lewat kiri lah (mau gimana lagi, lha tuh mobil jalannya pelan di tengah, sopirnya main gadget, mau menyalip lewat kanan terlalu beresiko, mau diikuti di belakang kok  nggak nyampe-nyampe), balik arah sembarangan (mobil tidak dianggap sembarangan karena dibantu Pak Ogah, padahal saat belok lebih bikin macet), dan sebagai-bagainya.

Berikutnya, sebagai makhluk yang dikaruniai akal, marilah kita coba renungkan dengan kepasrahan jiwa, ikhlas, sabar, adil, jauhkan emosi dan gengsi, dan sejujur-jujurnya. Berpijak pada kenyataan bahwa benda yang disebut “lebih besar” adalah benda yang menempati ruang yang lebih besar pula. Ini adalah kenyataan tak terbantahkan. Demikian juga dengan konsumsi ruang di jalan raya. Semakin besar kendaraan maka semakin besar pula kebutuhan ruang baginya. Mobil pribadi berukuran lebih besar daripada KR-2, memakan ruang yang lebih besar di jalan raya. Parahnya lagi bahwa besarnya konsumsi ruang di jalan tidak diimbangi dengan pengisian kapasitas. Jarang-jarang mobil pribadi yang terisi setengah dari kapasitasnya.
Kalau KR-2 dianggap sebagai biang kemacetan, coba bayangkan bila suatu hari di wilayah DKI Jakarcha, misalnya tanggal 1 semua orang yang akan bepergian disuruh memakai mobil pribadi, lalu hari berikutnya (tanggal 2) semua orang disuruh memakai KR-2, lalu bandingkan kondisi dari dua hari itu, kalau berpikirnya logis dan ikhlas, kita akan mengatakan bahwa hari pertama, yaitu di tanggal 1, banyak orang mengeluh terlambat masuk kerja, bahkan tidak jadi masuk kerja, bersalin di jalan, tidur hingga bangun lagi di jalan, buang air di jalan, berkelahi di jalan, menagih utang di jalan, akad nikah di jalan (dilakukan via telepon mungkin), atau membangun rumah di jalan (terlalu lama di mobil sampai-sampai mobil dianggap sebagai rumah, lalu dilengkapi dengan kompor, MCK, jemuran baju, eskalator dan lain-lain), atau juga mati di jalan (karena stress berat).

Lalu bagaimana pendapat anda di tanggal 2?



“Oooh lancar jayaaaa...”.

“O iya, kmaren tanggal dua bisa berangkat kerja sekalian antar anak ke sekolah, soalnya waktu mau berangkat liat ke jalan kok kaya’nya lancar banget gitu, eh.. pas pulangnya mampir di sekolah lagi ternyata pas jam selesai pelajaran, ya udah akhirnya pulang sama-sama”.

“Ehmm.. gua brangkat sekolah ama emak gua, seneng banget soalnya bisa anter emak ke pasar, trus dapet tambahan goceng, kan lumayan tuh.. he he..”

“Duh ngeri deh mas.. pas liat ambulan kenceng bener, mungkin gawat darurat kali ye?”

“Lumayan bang, nyang parkir motor semue, ni parkiran muat lebih banyak, otomatis kantong makin tebel deh.. hok hok ohok ohok hueeek juuh.. (suara parau, mungkin sedang batuk pilek).

“Kita berusaha semaksimal mungkin melayani masyarakat, dan kali ini meluncur ke TKP secepat kilat, biasanya macet. Krrk.. krrk.. kucing satu harap siaga krrk.. krrk.. Siap ndan, lapan nam”

“Lhe kalo bhegini terus saye suke mes, bagemane ye ngomongnye, pokoknye lancher leh, temen-temen ojhek jughe bheghitu bhilangnye, pelanggen jughe kagek ngomel, soalnye ken cepet ampe tujhuen ghitu” (maksudnya begini : “Lha kalau begini terus saya suka mas, bagaimana ya ngomongnya, pokoknya lancar lah, teman-teman ojek juga begitu bilangnya, pelanggan juga kagak/nggak ngomel, soalnya kan cepat sampai tujuan gitu”. Ini tukang ojek rupanya dari Jawa baru di Jakarta, jadi semua bunyi “a” di dekat akhir kata diganti dengan bunyi “e”, biar mirip orang Jakarte katenye)

Bagaimana dengan konsumsi BBM?
Dengan teknologi yang sama, jarak tempuh yang sama, tentu KR-2 lebih hemat dibanding mobil, jauh lebih hemat. Kenapa demikian? Ya karena KR-2 mesinnya lebih kecil, minum BBM lebih sedikit. Secara detail teknis hal ini bisa ditanyakan kepada siswa STM jurusan otomotif, nggak usah kepada gurunya, nggak usah kepada dosen fakultas teknik jurusan mesin di banyak universitas-universitas ternama di negeri ini. Tidak usah pula diperdebatkan di televisi dengan menghadirkan pakar mesin dan transportasi. Ini pertanyaan sepele-pelenya.
Belum lama lalu kelangkaan BBM sempat mendera masyarakat. Mereka rela antri demi setuang BBM, sampai-sampai ada kejadian orang antri BBM salah jalur, tidak dilayani, lalu emosi, lalu ngomong di media sosial dan bikin emosi masyarakat, terus disidang di sekolahnya, lalu dapat sanksi.
Jika kita ingin menghemat BBM, tentunya gunakanlah kendaraan hemat BBM, salah satunya adalah dengan menggunakan KR-2, bisa sepeda motor, bisa juga sepeda kayuh. Yang terakhir itu iritnya tak tertandingi seperti iklan di TV.

Kembali lagi ke jalan. Bila kita perhatikan di persimpangan jalan yang dilengkapi dengan lampu pengatur lalu lintas, saat lampu merah berganti hijau maka sepeda motor akan melaju lebih cepat dibanding mobil, bahkan meliuk di sela-selanya. Kenapa hal itu terjadi? Karena akselerasi sepeda motor saat itu lebih besar daripada mobil. Ini terjadi mungkin karena sepeda motor lebih ringan, atau karena pengendalian motor lebih sederhana dan mudah, atau mungkin juga karena motor lebih kecil?!!! Sehingga pengendaranya cukup lihat depan dan sedikit lirik kanan kiri maka keadaan sekitar sudah cukup terkuasai, lalu tancap gas. Lain halnya mobil, tengok kanan kiri, perhatikan spion kanan kiri, lihat depan, kanan kiri lagi, dan lagi, dan lagi, belum lagi urusan dengan hand brake.
Anda ingin segera bebas dari keruwetan semacam ini? Gunakan sepeda motor!

Di musim kemarau, pemandangan lazim di jalan adalah debu yang bercampur dengan asap knalpot yang menyesakkan dada. Pengalaman yang paling menjengkelkan adalah saat kita melaju di belakang mobil di jalan yang tak terlalu lebar. Ketika sesama mobil berpapasan dan roda kiri harus keluar aspal, mencakar tanah kering dan menghamburkan debu ke udara, maka kita jua yang menjadi konsumen debu “segar” itu. Segar dalam arti baru saja diproduksi, tapi eneg di hati.
Lalu pernahkah anda punya pengalaman dengan genangan air di jalan? Ini biasanya terjadi di musim penghujan. Saat hujan atau sesudahnya, jalan yang berlobang menjadi tempat genangan air yang potensial sebagai “sumber irigasi” yang efektif bagi pihak di dekatnya, termasuk pengguna jalan lainnya. Saat terlindas roda kendaraan, fungsi “pengairan” pun berjalan. Air nyiprat sejadi-jadinya. Volume cipratan berbanding lurus dengan besarnya genangan, lebar ban dan kecepatan kendaraan. Nah.. lagi-lagi ukuran kendaraan pegang peranan dalam mengancam kenyamanan. Dan, juga peranannya dalam merusak jalan hingga menghasilkan cekungan genangan itu tadi. Jadi pilih mana? Apakah anda suka perjalanan berdebu atau berkubang, atau perjalanan yang mulus segar dan sejuk tanpa ancaman air comberan?

Dalam benak kita, mungkin ada pemahaman bahwa besar sama dengan cepat. Pesawat terbang yang lebih besar terbangnya lebih cepat. Dalam dunia balap Moto GP pun demikian, makin tinggi kelasnya, makin besar mesinnya, makin tambun motornya, makin cepat larinya. F1 pun sama, dia lebih bongsor dibanding gokart, maka larinya pun lebih dahsyat. Dan pemahaman ini kita bawa saat mencari jenis kendaraan yang akan kita gunakan untuk kegiatan harian, yang penggunaannya adalah di jalan raya. Padahal dari semua kendaraan idola tadi tak satupun yang pernah merajai jalanan. Belum pernah terbukti kehandalannya dalam mengantarkan pemiliknya membelah kemacetan ibu kota misalnya, atau menjadi juara dalam lomba akselerasi di lampu merah. Semua hidup di habitatnya, dengan kondisi yang dirancang memang khusus untuk mereka.
Sedangkan di jalan raya? Di tempat kita ini, jalan raya masih merupakan ajang pembuktian prestasi berkendara sejati. Tantangannya jauh lebih hebat daripada di lintasan balap. Para pekerja dan pelajar berangkat pagi pulang siang atau sore. Ibu-ibu berbelanja atau antar jemput anak sekolah. Dan lain sebagainya, tanpa ada bendera kuning, safety car, umbrella girl, pit stop, wearpack, sliding pad, asuransi juga belum tentu ada, dan etc etc.. dan selalu saja ada pihak yang egois, maunya meniru para idola-nya tanpa merenung dan menyadari bahwa yang akan dihadapi adalah jalan raya yang menampung bermacam jenis kendaraan, dengan manuver dan tujuannya masing-masing.
Mengingat kondisi lalu lintas yang cenderung makin padat dan konsumsi BBM serta polusi yang kian meningkat, pola pikir yang menganggap besar sama dengan cepat sudah saatnya kita pertimbangkan kembali. Sekarang mari bayangkan andaikata kita mengendarai sepeda kayuh atau sepeda motor bermesin 100cc saat berada di jalan yang lalu lintasnya padat. Adakah di sana pengemudi mobil, atau sepeda motor dengan kapasitas mesin besar, di atas 150cc misalnya, dapat melesat dan memanjakan raungan knalpotnya, lalu sesaat kemudian punggungnya lenyap dari pandangan kita, adakah seperti itu? Rasanya tidak juga, malah kemungkinan besar punggung itu akan terus menjadi pemandangan yang kita nikmati hingga perjalanan lancar kembali, dan itu mungkin berarti kita telah berada di gerbang masuk kantor kita masing-masing.
Makna dari gambaran situasi di atas adalah bahwa dengan mesin yang lebih besar (konsumsi BBM lebih boros tentunya) tidak ada jaminan bagi kita untuk mencapai waktu tempuh yang lebih singkat, Bagaimana dengan kendaraan yang lebih besar? Anda mungkin tahu jawabannya..

Menggunakan kendaraan yang lebih kecil juga menambah keuntungan bagi tukang parkir, karena tempat untuk satu mobil bisa diisi dengan paling sedikit empat KR-2. Tarif parkir umum di Yogya sekarang (Agustus 2015) satu mobil Rp. 2000,- sedangkan KR-2 Rp. 1000,-. Malah di beberapa tempat KR-2 nya bisa dipadatkan jadi lebih dari empat unit pada luasan tempat parkir yang sama. Silakan hitung selisihnya. Dan bagi para juru parkir, monggo layani pengguna KR-2 dengan sepenuh hati, dari merekalah rezeki datang lebih banyak tanpa teriak-teriak “kiri kanan balas lurus yaaak hooopp... jangan di handbrake ya Boos...” Belum lagi saat mobilnya mau keluar di jalan yang ramai, masih pakai acara balik arah lagi, beri aba-aba lagi, atur lalu lintas... pusyiiing...

Lalu.. kita di pihak mana? Mau jadi pihak penambah ruwet jananan? Atau warga negara yang baik, yang menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan?
Monggoooo...
Atau para pemikir, para peneliti, penentu kebijakan, mau tergerak hatinya untuk peduli..

Monggoooo jugaaaa...

Saturday, January 18, 2014

Jenis Peluru Senapan Angin

Peluru Senapan Angin (PSA)

Dari Wikipedia, the free encyclopedia


Dari kiri ke kanan, flat (datar), dome/round head (kubah/kepala bulat), hollow point (ujung berlesung) dan pointed pellets (peluru runcing). Baris atas kaliber .22 (5.5 mm), dan bawah kaliber .177 (4.5 mm).


Peluru senapan angin (PSA) pada umumnya, adalah sebuah non-spherical projectile atau projectile yang tidak berbentuk bulat, yang dirancang untuk ditembakkan dengan senapan angin. Meski tidak selamanya PSA berbentuk demikian. PSA berbeda dengan peluru pada senjata api karena tekanan yang digunakan; senjata api beroperasi pada tekanan ribuan atmospheres, sedangkan senapan angin beroperasi pada tekanan sekitar 50 atmospheres. Senjata api memiliki tekanan yang cukup untuk menekan peluru dengan ukuran sedikit lebih besar daripada lop laras untuk masuk ke dalam lop laras tersebut guna menghasilkan suatu ruangan yang rapat, sedangkan senapan angin umumnya menggunakan PSA dengan ukuran sedikit lebih kecil yang dirancang untuk menyekat laras senapan dan bergerak mengikuti alur dalam lop senapan (rifling). Terdapat juga PSA yang dapat ditembakkan dengan smoothbore barrel (laras lop polos), yang demikian ini dirancang agar lebih stabil, seperti Foster slugs yang digunakan pada shotgun berlop polos.


"Diabolo," sering disebut wasp waist pellet (peluru berpinggang) adalah yang paling banyak ditemui saat ini. PSA diabolo dapat berjenis datar, kubah, ujung berlesung atau runcing, dengan pinggang besar maupun kecil. Dari pinggang ke belakang berbentuk corong dan akan mengembang pada ukuran maksimal karena tekanan saat ditembakkan. Pada bagian kepala atau bagian padat di depan pinggang biasanya dibuat dengan ukuran pas dengan lop laras sekedar untuk dapat menyentuh rifling. Hal ini untuk menjaga posisi PSA tetap dalam jalur sumbu laras dengan tetap meminimalkan gesekan. Namun demikian gesekan tetap diperlukan guna menjaga PSA tetap pada posisinya hingga piston/hammer memukul klep udara, dan mengirimkan aliran udara bertekanan tinggi untuk meluncurkan PSA. Corong PSA dirancang tipis, dan terbuat dari bahan yang mudah tercetak, biasanya timah hitam, walaupun tersedia juga bahan alternatif lain yang tidak beracun semisal timah atau bahkan plastik. Ketika ditembakkan, corong akan mendapat tekanan udara dan mengembang memenuhi lobang laras, hal ini berlaku sebagai sebuah sekat udara yang baik, dan PSA pun meluncur di dalam lop sekaligus berputar mengikuti rifling. Pada lop polos, corong juga mengembang sebagai sekat, namun karena tidak adanya rifling maka PSA pun tidak berputar, dan ini menjadikannya kurang akurat. Dalam beberapa kasus pada jenis ini, kepala padat di depan dan corong di belakang akan bermanfaat dalam mencegah PSA bergerak jungkir balik. Namun demikian, masalahnya bukan selalu yang seperti ini, dan pada beberapa jenis PSA tetap akan jungkir balik saat melesat dan seakan menghindar untuk mengenai sasaran. Anda akan mengetahui hal ini saat mengalaminya sendiri karena PSA tidak akan membuat lobang yang bersih dan bulat pada kertas sasaran, namun justru akan membuat lobang mirip lobang kunci dengan tepi yang semrawut.


PSA, pada kondisi alaminya, dirancang untuk melesat pada kecepatan subsonic. Kecepatan tinggi dapat menyebabkan PSA berubah bentuk, bahkan pecah ketika melesat. Transisi dari supersonic ke subsonic menyebabkan sebagian besar PSA jungkir balik. Makin dekat kecepatan PSA terhadap kecepatan suara, menjadikan PSA juga makin tidak stabil. Beberapa produsen menanggapi hal ini dengan membuat PSA yang lebih berat untuk digunakan pada senapan angin bertenaga lebih kuat. PSA ini melesat pada kecepatan yang semakin rendah, karena bobotnya yang lebih berat membuatnya tidak hanya lebih akurat tapi juga lebih mematikan sejalan dengan energy kinetiknya yang lebih besar.


 Penggunaan dalam pertandingan menembak

PSA diabolo 4,5 mm (.177 in) khas pertandingan


 PSA diabolo pertandingan, digunakan pada pertandingan menembak kelas senapan angin 10 meter dan pistol angin 10 meter. PSA kaliber 4,5 mm (.177 in) tersebut memiliki apa yang diketahui sebagai wadcutter heads, yang berarti ujungnya (hampir) datar/rata, yang meninggalkan lobang yang bersih dan bulat pada kertas sasaran. PSA pertandingan dibuat dari timah dan dikemas secara lebih hati-hati untuk menghindarkannya dari perubahan bentuk dan kerusakan lainnya, yang dapat mengurangi tingkat akurasi.Seorang peserta pertandingan menembak diijinkan melakukan uji pengelompokan perkenaan tembakan dengan senapan mereka yang tertumpu pada penyangga tetap dalam rangka menentukan jenis PSA mana yang memberikan hasil terbaik bagi senapan mereka. Untuk memberikan performa maksimum PSA yang akan ditembakkan dari berbagai macam senapan angin, pabrik-pabrik besar pembuat PSA pertandingan memproduksi PSA dalam berbagai variasi bobot (varian ringan/kecepatan tinggi biasanya digunakan untuk pistol angin) dan variasi “ukuran kepala” (head size), artinya PSA memiliki diameter depan dari 4,48 mm hingga 4,52 mm. 


Ragam Peluru Senapan Angin
Pertama yang harus dipahami adalah perbedaan antara diabolo dan bentuk peluru senapan angin (PSA) lainnya. Diabolo memiliki pinggang dan corong berongga/tidak pejal padat, yang mana akan menghasilkan sekat udara saat berada dalam laras. Selain dari putaran yang disebabkan oleh rifling, bentuk pinggang dan corong tersebut juga memberikan tambahan kestabilan terhadap PSA untuk akurasi yang lebih baik, sementara akurasi dan kestabilan PSA non diabolo hanya tergantung pada putaran yang dihasilkan oleh rifling. Tulisan berikut mengulas tentang PSA bentuk diabolo dan bulat.


a. Wadcutter/Kepala Datar Wadcutter memiliki kepala hampir datar dan menghasilkan lobang bulat sempurna pada kertas sasaran. PSA tipe  ini digunakan secara eksklusif pada kompetisi menembak 10 meter dan akan sangat baik digunakan pada senapan angin kecepatan rendah dan untuk kegiatan berburu jangkauan pendek (hingga 20-an meter). Untuk jangkauan di atas 25 meter akurasi wadcutter akan mulai kacau. Beberapa model PSA lainnya seperti Beeman Ram Point dan RWS Super-H-Point, menggabungkan bentuk wadcutter dalam tipe-tipe PSA yang berbeda (kubah dan ujung berlesung).

Wadcutter berkepala datar, dari kiri ke kanan : Gamo Match, H&N Finale Match dan RWS R10 Match. Semua dalam kaliber 4,5 mm/ .177.


b. Dome / Kepala Kubah Seperti namanya, PSA ini memiliki kepala berbentuk kubah. Tipe PSA ini memiliki aerodinamika yang sangat baik dan digunakan pada tembak target lapangan, berburu dan kegiatan menembak umum lainnya. Baik untuk senapan dari bermacam-macam tingkat kekuatan.

PSA Kepala Kubah dengan berbagai variasi bentuk. Dari kiri adalah Crosman Premier 7.9-grain, JSB Diabolo Exact 10.2-grain dan Eley Wasps. Semua dalam caliber 4,5 mm/.177.

 


c. Hollowpoints / Ujung Berlesung Sekali lagi nama menggambarkan bentuk, PSA dengan kepala yang memiliki lesung dan tetap pula terdapat variasi pada bentuk ini. Tujuannya adalah PSA akan mekar segera setelah keluar dari laras senapan, dan ini adalah 100 persen PSA berburu. Akurasi biasanya mulai kacau setelah 23 meter jika Si Lesung ini merupakan PSA yang mekar efektif seketika saat keluar dari laras. Sementara pada PSA yang gagal mekar justru memiliki akurasi dalam jangkauan yang lebih jauh.

Si Lesung dirancang untuk dapat segera mekar sesaat setelah keluar dari laras. Dari kiri adalah RWS Super-H-Point, JSB Predator dan Beeman Crow magnum. RWS dan JSB pada kaliber 4,5 mm/ .177, sedangkan Beeman berkaliber 5,5 mm/ .22.


d. Pointed Pellet / Kepala RuncingDirancang memiliki daya tembus yang tinggi. Bagi kebanyakan orang, Kepala Runcing terlihat streamlined atau berhambatan udara rendah. Pada kecepatan subsonik ideal dimana senapan angin beroperasi, bentuk ini ternyata tidak memberikan keuntungan. Biasanya, pada jarak jauh PSA Kepala Runcing ini tidak seakurat PSA Kepala Kubah.

Kepala Runcing dirancang  untuk mencapai daya tembus yang tinggi. Cincin yang ada pada Beeman Silver Jet tidak menghasilkan apapun bagi performanya. Dari kiri adalah Daisy Precision Max Pointed, RWS Superpoint dan Beeman Silver Jet. Semua pada kaliber 5,5 mm/ .22.

e. Bola Timah
Bola timah superior dalam hal daya tembus dan dapat sangat akurat pada beberapa senapan. Karena jenis ini berukuran tepat sama dengan ukuran lobang laras, maka dapat dipastikan aman bila digunakan pada sebagian besar senapan angin. Pengguna senapan angin bermagasen mungkin akan mengalami kesulitan dengan jenis PSA ini kecuali bila telah dirancang sebelumnya, seperti misalnya Drozd Submachine Gun. Bola Timah ini dapat juga digunakan pada beberapa senapan BB (Ball Bearings) model lama. Karena bentuknya yang bulat maka tidak ada pilihan bobot. Kaliber 4,5 mm/.177 ball berukuran 8.1 grains dan untuk kaliber 5,5 mm/.22 ball berukuran 15.1 grains.

Bola tetaplah bolal! Berdaya tembus dahsyat. Dari kiri adalah  Gamo round ball, Beeman Perfect Round dan Lobo round ball. Gamo dan Beeman berkaliber 4,5mm/ .177. sedangkan Lobo 5,5 mm/ .22.


f. PSA LangkaSelalu ada yang berbeda di luar sana, dan anda akan menemukan beberapa PSA yang asing. Kami memasukkannya dalam katagori PSA langka dan sepertinya PSA jenis ini sangat jarang dipakai untuk jenis kegiatan apapun.

Dua PSA langka ini adalah Gamo Rocket (kiri) dan Gamo Raptor. Jenis PSA langka ini sangat jarang digunakan dalam kegiatan menembak, walaupun pada beberapa jenis senapan PSA ini menghasilkan kecepatan yang baik.


  

Saturday, December 24, 2011

MTB atau Onta?


Haruskah MTB? Dan kenapa Gazelle masih mengeluarkan produk model “onthel/onta”?
Jika anda bingung memilih jenis sepeda, tulisan berikut diambil dari F.A.Q Gazelle dan mungkin dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan.
Model top tube atau Heren

Model step-through atau Dames


Sebagian besar produsen sepeda merek terkenal telah mempromosikan penggunaan MTB atau sepeda gunung sebagai sepeda terbaik untuk penggunaan sehari-hari sejak 1970an. Sebenarnya sepeda MTB awalnya dirancang bagi penggunaan di.... gunung! Tren sepeda MTB diluncurkan sebagai terobosan pemasaran besar-besaran yang dimulai oleh merek-merek dari Amerika. Dalam hal ini Australia telah terpengaruh secara besar-besaran oleh pasar Amerika tersebut.
Di Eropa, tepatnya Belanda, dimana sepeda memegang superioritas, hal tersebut tetap dirasa tidak tepat bila menggunakan sepeda gunung untuk pergi berbelanja, berangkat ke kantor dengan pakaian kerja atau bagi ibu-ibu yang mengantar anaknya berangkat ke sekolah. Sepeda yang digunakan oleh para penglaju di Belanda demikian nyaman dan praktis. Kenyataannya memang, masyarakat Belanda telah berada beberapa tahun di depan dalam hal kegiatan penglaju sepeda. Sementara di sisi lain juga terdapat persepsi di Australia bahwa bersepeda adalah murni aktivitas olahraga. Namun sekarang hal itu berubah drastis dimana banyak orang memilih sepeda untuk alat transportasi.

Bagaimana rasanya mengendarai sepeda tersebut?
Adalah hal yang menarik menyaksikan wajah-wajah orang yang mengendarai Gazelle untuk pertama kalinya. Biasanya terhiasi oleh senyum yang lebar ! Secara pribadi kami percaya jika anda berniat untuk membeli sepeda, anda harus mencobanya terlebih dahulu. Cobalah kendarai sebanyak mungkin sepeda dengan tipe yang berbeda-beda sebelum anda menyerahkan uang yang telah anda kumpulkan dengan tidak mudah! Kami merekomendasikan anda untuk mengunjungi Dealer Gazelle agar dapat merasakan kesempatan sebuah “test ride” dan membuka pikiran anda. Begitu sepeda hibrid maupun city bikes meluncur, kami yakin anda tidak akan menemukan sepeda yang nyaman dikendarai lebih daripada Gazelle. It simply glides along.

Apakah perbedaan antara rangka “Step-through” dan “Men’s”?

Secara teori, wanita mengendarai sepeda step-through dan pria mengendarai sepeda dengan top tube (Bhs Jawa : planthang). Pada prakteknya kedua jenis sepeda tersebut adalah unisex. Banyak juga pria yang menyukai versi step-through karena kemudahannya saat naik atau turun dari sepeda. Untuk sepeda yang memiliki top tube maka rangkanya akan lebih teguh sehingga akan lebih efisien saat dikendarai. Mungkin hal ini penting jika anda mengikuti Tour De France, namun untuk penggunaan city riding dua tipe rangka tersebut tidaklah memberikan perbedaan yang signifikan.

       Jadi tinggal bagaimana kita sebagai (calon) pembeli dan pengguna sepeda harus cerdas dalam menentukan jenis sepeda sehingga nantinya sepeda tersebut akan memberikan hasil yang maksimal dan bukan justru merepotkan. Memilih sepeda harus berdasarkan kebutuhan akan fungsinya, bukan berdasarkan trend yang ada. Monggo… maturnuwun…

Wednesday, November 16, 2011

Polygon Premier Nyaman Mak nyuusss..

Si Ndas Ireng


_____Hari Minggu kemaren aku uji diriku sendiri nyepeda dengan jarak yang (menurutku) jauh juga. Dengan sepeda kesayangan istriku, sepeda itu bernama Ndas Ireng. Bernama demikian karena bentuknya yang mirip kambing PE yang sempat ngetrend beberapa waktu lalu yaitu wedhus ndas ireng (kepala hitam). Sepeda itu sejatinya adalah Polygon Premier th. 2007 yang sudah aku ganti setangnya dengan setang sepeda jengki. Sekilas dan pada awalnya memang keliatan aneh soalnya mtb biasanya pake flatbar. Melanggar pakem memang, tapi kan custom itu bebas (cari pembenaran deh he he..) dan yang penting nyaman untuk cari keringat.
_____Aku ambil rute Godean-Kentheng-Ngeplang-Klangon-Nggamplong-Nggoser/Nggubug-Tiwir-Tebon-Godean. Rute itu aku tempuh dalam waktu 2 jam (alon2 waton kelakon). Nyleneh bin ajaib..!!, dari pinggang ampe cengel ora pegel blass..!! Cuma para pengepit profesional yang papasan pada liatnya pake raut muka gimanaaa gitu, mungkin pikirnya “wong ngendi meneh iki.. ngepit kok koyo numpak wedhus”  hua ha ha... ning yo ben.. sing penting le ngepit penak, koyo numpak sedan Mercy. Ampe rumah pantat panas juga, mungkin nggak terbiasa nyepeda jarak segitu ato juga karena sadelnya (nyalahin sadel dah he he.. bawaan toko). Tak pikir2 gimana kalo sadelnya tak ganti sekalian pake punyae jengki ato onta biar mak nyuuussss... mendut-mendut, ah.. kalo ada rejeki lagi nanti hunting di pasar loak pon-ponan Godean. Buat para onthelis mohon maaf nggih nek saya melanggar pakem, lha piye jal.. pengen ikut pit-pitan tapi nggak kuat pegel je.. Matur nuwun, tapi siapa tau ada yang mau ikutan nyleneh, asyiiiik.. pokoke.