Monday, July 30, 2018

Sepeda Onthel Kekinian


ONKI STYLE
Onta Kekinian


-Pertengahan Februari 2018-

Si Onki sedang berteduh di tempat yang empuk eyuuup...

____Sepeda onta ini dulunya milik Simbahnya istri.
____Ceritanya pas sowan lebaran 2016 di rumah Simbah di Moyudan, kulihat sepeda model dames seperti ini ada 2 buah, kedua-duanya dalam kondisi tidak sehat, teronggok merana karena (sangat) lama tidak dipakai. Kotor pasti.. ban bocor semua (karena pecah-pecah, gembos dalam waktu lama), permukaan cat dijangkiti karat nan lebat.
____Iseng kuperiksa komponen pendukung operasionalnya... lengkap. Artinya sepeda ini bisa dipakai tanpa harus mengalami major repair.
____Dan ternyata sepeda yang satu hub belakangnya model coaster brake (istilah umumnya torpedo) merek “favourite”. Sesuai seleraku yang menganut paham sepeda wireless alias tanpa kabel atau minim kabel, atau nggak suka terlilit kabel, apalagi utang..
____“Eh... sepeda model dames ya”.
____“Waaah... cocok nih kalo buat ke masjid”, pikirku. Karena kalo ke masjid kan seringnya pakai sarung, jadi sepeda model gini emang pas, nggak ribet.
____Selang beberapa lama (mungkin satu bulan berikutnya), Lik Yanto (adiknya ibu mertua, putranya Simbah pemilik sepeda) yang tinggal satu komplek dengan Simbah mampir ke rumahku. Ingatanku ke sepedanya Simbah muncul..
____“Lik, pit jowone Simbah nika asring diagem mboten to? (Om, sepeda kumbangnya Simbah itu sering dipakai nggak to?). Ini pertanyaan nggak mutu. Sudah tau nggak pernah dipake..  eeee.. masih tanya juga..
____“Aa.. ora tau dienggo, kana pek en wae..”, jawab Lik Yanto. Sebuah jawaban yang sangat indah dan menghanyutkan, sekaligus menimbulkan harapan.. haiyyaaaa..
____Singkat cerita aku dan istri lalu nembung ke Simbah Kakung owner para onta, dan Simbahpun dengan penuh semangat memberikan sepedanya buatku. Bahkan Mbah Putri ikut ngendika,
____“gowonen kabeh wae po kono, nang kene yo ming bobrok nganggur jee..”.
____Mbah Kakung menimpali, “ho o kono..”
____“walaah mboten Mbah, setunggal mawon mboten telas niki..”
...dan Si Onta pun kubawa pulang ke Godean, sambil seakan diiringi  theme song-nya The Magnificent Seven. Bedanya, mereka naik kuda di Amrik sono sedangkan di sini naik onta, Si Onta paringanipun Simbah.

* * *

Nyaman sesuai harapan

north road handlebar
            
____Si Onta yang harus segera berdinas pun masuk ruang terapi.
____Ban depan belakang (harus) ganti baru. Karena memang sudah nggak bisa dipakai. Pengennya cari yang model white wall, tapi nggak ada. “Sedang langka Mas”, kata penjual ban. Akhirnya pakai yang warna hitam biasa. Tadinya ditawari yang warna kuning, yellow wall, tapi kok nggak sreg...
____Setang dipilih model north road handlebar atau moustache yang lazim terpasang di sepeda jengki. Alasannya sederhana, nyaman, tetap enak dilihat, dan yang terpenting tinggal ambil, lha wong selama ini sudah terpasang di fixie yang lama nginep di gudang.
____Komponen yang dirasa tidak perlu dipensiunkeun semua. Perangkat rem, lampu berikut dinamo, dan tak lupa bagasi. Ini sesuai dengan seleraku sebagai penggemar sepeda simple bin trondol.
____Lalu sepeda dibersihkan. Dilumasi.
____Lalu dicoba.
____Kayuhannya ringan. Mungkin karena rantai dan as-as nya sudah terlumasi kembali.
____Rem torpedonya masih pakem, jan mak sreett..
____Setang moustache-nya memberikan posisi punggung yang sangat ideal. Posisi tangan pun sangat natural, serasa tidak bekerja,  angler...
____Sadel...? sesuai penilaian masyarakat umum, puinuuuk... nyuuamaaan... Yang pasti lebih nyaman dibanding sadel yang biasa terpasang di MTB atau sepeda keluaran baru lainnya. Khusus mengenai sadel ini, bahkan seorang pawang sepeda yang sudah sepuh (masih saudara juga, Pak Dhe), naksir kulit sadelnya. Bagus katanya.
____Secara umum sepeda ini memang nyaman bingits...

***

Mawas diri

____Pagi itu sang onta akan menjalani tugas nan penting. Beli bubur khusus untuk Ndoro Putri yang lagi lucu-lucunya.
____Rute dipastikan ngidul sejauh 2 km. Ke Pasar Menulis. Ternyata The Bubur Seller ora dodol...
____Immediate alter heading ngalor, direct to Godean Market. Menjelang tanjakan Tegalsari ambil ancang-ancang. Aku fokus di pedal. Kucoba mempraktekkan teori ngonthel yang kubaca di internet. Anda tahu tanjakan Tegalsari itu seperti apa? Beeuuwwwh... Tapi akhirnya lulus juga uji tanjakan itu dengan predikat cumlaude. Ngaruh juga teori itu walaupun nafas ngos-ngosan akibat lama nggak ngonthel itu tadi. Sepanjang jalan ke Godean sesekali kujumpai rombongan pesepeda. Rata-rata pakai MTB keluaran baru, lengkap dengan aksesoris selayaknya goweser masa kini. Satu yang paling bikin kemrungsung adalah bahwa mereka, dengan MTB-nya, memang kompeten untuk melalui berbagai kontur jalan. Sepeda mereka dilengkapi derailleur. Variasi kecepatan mereka mumpuni untuk melahap tanjakan, berakselerasi selepas lampu merah, atau ngebut di trek lurus nan mulus. Semua bisa diatur.
____Lha trus seandainya, ini seandainya... si Onta paringanipun Simbah ini suatu saat mau ikut pit-pitan bareng-bareng dengan sepeda lainnya yang ber-derailleur? Rak malah ming tobat le ngoyak kancane. Susah ngimbangi sepeda lainnya. Di jalan lurus? Teman lainnya bablasss duluan... belum di tanjakan, wadeewww...
____Cerita lulus tanjakan tadi kan cuma di Tegalsari. Tanjakan ringan dan cuma sendirian pula, tidak harus menjaga kebersamaan dengan pengonthel lainnya. (Untuk pertanyaan “Anda tahu tanjakan Tegalsari itu seperti apa?”, jawabannya adalah “ringan”).
____Si Onta, veteran medan laga masa silam, sepertinya harus masuk training camp untuk dapat kembali beraksi di zaman now.

***

Fungsi adalah keharusan, style adalah kewajiban

____Sepeda bagi pemiliknya memiliki banyak kemiripan aspek dengan pakaian. Harus memberikan manfaat baik fisik maupun psikis, materiil dan non materiil, jiwa dan raga, hitam dan putih (yang warna hitam kalau dicat putih ya jadi putih, begitupun sebaliknya), lahir dan batin, dan sebagainya dan sebagainya.
____Pun demikian dengan Si Onta ini. Secara fungsi harus memberikan kesejahteraan (baca : kenyamanan) yang luar biasa saat dikendarai. Bukan kesejahteraan semu yang sering didengung-dengungkan oknum jurkam. Bukan pula kenyamanan imajinatif, yaitu ngakunya nyaman padahal cuma karena sepedanya baru dan muahaal, sedangkan batin tertekan, bokong ngilu plus pundak serasa mau runtuh. Belum lagi urusan style sepeda untuk pemenuhan kebutuhan jiwa. Untuk yang satu ini susah diterangkan, yang jelas, komponen yang boleh ada di sepeda hanyalah yang penting-penting saja. Yang kurang penting diharap minggir. Pokokmen gitu lah..anda tau sendiri.
____Si Onta pun pasang kuda-kuda, si kuda pasang onta-onta..

***

Mulai dari yang dirasa paling mendesak : transmisi


https://en.wikipedia.org/wiki/Derailleur_gears

Sesuai kata-kata bijak “apalah artinya sepeda onthel tanpa mengonthel”, maka urusan onthel-mengonthel menjadi jiwa sepeda onthel. Karena tanpa diontheli maka sepeda onthel tidak akan terontheli. Serasa mati. Tanpa jiwa. Rusak. Terkonthel-konthel di gudang. Pengonthelnya pun jadi malas beronthel-onthel lagi. Bagaikan lingkaran setan memang urusan pengonthelan ini.

____OK.. mari kita sudahi omongan peronthelan ini dan kembali ke pokok bahasan.
Transmisi menjadi titik awal perombakan.
Selancar sana selancar sini di samudera kawruhnya Mbah Gugel.
____Derailleur? Mengganggu penampilan, karena akan ada banyak kabel. Apalagi kabel si derailleur ini pasti minta teman yaitu kabel rem, di samping si derailleur itu sendiri juga membuat penampilan sepeda jadi kurang simple. Urusan rem dicari model coaster brake, yang mekanismenya tanpa kabel. Setelah belajar sama Pak Dhe Sheldon Brown (di internet) akhirnya terpilihlah Shimano Nexus 7 speed internal gear with coaster brake hub (panjang amat namanya, aku sendiri ampe bingung...). Jadi nanti di sepeda ini hanya akan ada 1 utas kabel saja yaitu kabel shifter.
____Dengan “ditemukannya” si nama panjang tadi (Shimano Nexus 7 speed internal gear with coaster brake hub) masalah fungsi dan kenyamanan sepeda teratasi 95 persen. Yang 5 persennya lainnya, yaitu reparasi ulang dan make up tinggal diserahkan pada achlinya masing-masing.
Kabel shifter menyelinap masuk di downtube
____Menganut istilah kekinian, maka Si Onta ini diarahkan untuk bisa tampil bak artis zaman now tapi masih menyisakan unsur senioritas (baca : tua). Dalam hal ini warna memegang peranan penting. Kembali liat-liat di galeri Mbah Gugel, didapatlah kombinasi warna fender motor antik lalu kususun komposisi hitam dan abu-abu (titanium) metalik dengan lis di antara keduanya berwarna emas. Untuk karya mewarnai ini eksekutornya adalah Mas Plenthis si jago ngecat. Di bengkel cat ini sekalian mengerjakan modifikasi kettingkast, yaitu dari yang tadinya model full dibelah menjadi setengahnya saja. Juga membuat lobang pada downtube dan chainstay agar sebagian kabel shifter dapat menyelinap di dalam rangka.

Kabel shifter keluar dari chainstay
____Kelar urusan warna Si Onta beranjak ke tahap perakitan. Pekerjaan ini dipercayakan ke bengkel sepeda Mayasari. Bengkel ini juga sudah menjadi mbat-mbatan urusan sepeda onthel paling tidak sejak tahun 1993 silam. Kala itu Si Ontopos yang pengen ganti jeruji roda depan. Selain onderdil komplet, Mas dan Mbak owner bengkel ini enak diajak konsultasi seputar kesehatan sepeda. Terutama unsur kenyamanan ini yang membuatku memilih untuk memasang si nama panjang di bengkel ini. Menurut dugaanku, masih jarang bengkel sepeda di sekitar Godean yang pernah menangani model hub seperti itu. Jadi seandainya nanti ada kesulitan maka dengan komunikasi yang baik masalah dapat terpecahkan. 

***

Sudut pandang baru

____Sore itu sepulang kerja, selepas ashar, rencananya adalah membawa pulang Si Onta. Sedikit mengobrol dengan Mas Bengkel mereview perakitan Si Onta, ditarik kesimpulan akhir bahwa Si Onta siap bertugas. Selama proses assembly tidak ada kendala berarti. Semula kupikir akan ada masalah pada tab washers atau kita sebut saja ring anti putar yang berguna untuk mengunci as roda agar tidak berputar. Ring tersebut dirancang dengan sudut-sudut tertentu sebagai pilihan yang disesuaikan dengan model dropout atau celah as roda pada rangka sepeda yang umumnya miring, bukan mendatar seperti pada rangka Si Onta. Tapi ternyata pada hal ini tidak ada masalah. Mas Bengkel bilangnya oke oke saja.., dan ternyata memang oke. Pengujian semua posisi gear tidak ada masalah. Indikator posisi gear berada tepat di angkanya masing-masing. Rem coaster brake nya bekerja selayaknya rem torpedo pada umumnya. Memang mahir Mas Bengkel ini.
____Sampai di rumah kuperhatikan lagi kondisi Si Onta. Tidak ada masalah. Satu-satunya hal yang kurasa belum pas adalah masalah penampilan. Apalagi kalo bukan kabel. Kali ini adalah bentuk lengkungan kabel di depan setang yang terlihat piyeee gitu. Terlalu mblendhuk. Kurang matching. Kurang luwes. Tapi itu nanti saja. Dibenahi sambil jalan. Sekarang yang penting Si Onta ini sudah sesuai gambar rancangan semula. Sudah lebih pede untuk ikut (ikutan) bersepeda ria bersama teman-teman. Lebih pede untuk melibas tanjakan Tegalsari yang sempat membuat gentar pembaca tulisan ini xi..xi..xi..
____Kinerja si nama panjang cukup memuaskan. Kesan pertama saat mencoba seperti mendapat kejutan. Bisa-bisanya Si Onta rasa genjotannya seperti itu. Boleh dibilang overall range girnya komplit, dan efisiensi dari hub tersebut - untuk sebuah sepeda tua dan aktivitas non ekstrim – tidaklah terlalu buruk dibandingkan model derailleur. Mekanisme pemindah gigi terlihat cukup terlindung dimana hub ini menggunakan semacam ring pemutar yang ditarik kabel shifter dan berada di sisi dalam rangka sepeda. Dengan sistem seperti ini maka tidak ada bagian yang menonjol di sisi luar rangka sepeda seperti yang umum terdapat pada sistem derailleur atau bahkan hub dengan gir internal model lainnya.   
____Sekarang tiap kali Si Onta bertugas mengantarku kesana kemari, yang terasa adalah bahwa dengan menggunakan sepeda ini hadir sudut pandang baru terhadap dunia pengonthelan. Gaya Si Onta ini kuanggap sebagai alternatif bagi mereka yang mempunyai pemikiran sama, yaitu bersepeda dengan nyaman namun dengan effort yang tidak terlalu ontaism. Tidak terlalu ngoyo. Bahwa bersepeda di masa sekarang ini masih bisa dilakukan dengan kenyamanan sepeda tempo doeloe namun dengan rasa genjotan zaman now, era kekinian. Sehingga wajar pula jika kusebut penampilan Si Onta tua ini sebagai gaya Onta Kekinian, Onki Style.

***

Comments

“Wah kok bagus ini sepedanya Mas, klo ada yang minat trus gimana?” (padune dia itu sendiri yang minat, padahal sepertinya cuma suka dengan kombinasi warna cat nya)
“Sepedanya antik Mas” (mungkin maksudnya “tua”)
“Hub kaya’ gitu harga berapaan?” (nggak nanya performa sepeda, tapi nanya harga si nama panjang)
Iki ki pit sing endi e?” (ekspresi wajah bengong, pangling dengan penampilan sepeda)
Pit ming angel le ngerem wee” (ini kata anakku wedok, cuma alasan dia aja supaya nggak disuruh sekolah dengan sepeda onthel)
Pit opo kuwi?” (malah tanya merek sepeda)
Kok gedhe banget?” (sambil nunjuk ke arah si nama panjang)
“Nggak bikin pegel.. (ini kata istriku, sangat obyektif, sesuai keadaan sebenarnya)
“?!$@#&%^<x*?????” (ekspresi wajah beberapa orang sambil meringkas jarak kedua alis)
“?????” (ini mungkin komentar Simbah seandainya beliau melihat sepedanya dulu. Tapi sampai kubuat tulisan ini Si Onki belum pernah kutunjukkan ke Simbah)

Maturnuwun

***
           

Monday, August 17, 2015

BANJIR, MENGAPA TERJADI?

Oleh : Kudhung Sarung



            Banjir. Itulah yang terjadi di Jakarta awal tahun 2013 silam. Hal yang mungkin “sedikit” memalukan bagi sebagian orang di republik ini mengingat Jakarta adalah ibukota negara. Repot dan menjengkelkan tentunya, bagi sebagian besar warganya. Banjir di ibukota ini cukuplah menjadi gambaran tentang betapa susahnya bila banjir melanda. Mulai dari terhambatnya aktifitas masyarakat, ancaman penyakit hingga presiden yang musti rela gulung celana. Tapi pernahkah terpikir oleh kita tentang asal-usul banjir ini? Mari kita coba pikirkan dengan nalar yang semurni-murninya, dengan niat yang suci untuk mencari akar permasalahan tentang banjir, untuk kemudian mengakui bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, agar kita semua tahu tentang bagaimanakah cara mencegah banjir dengan benar. Merdeka...!!!, eh... tapi masalah nanti para penguasa bersedia membuat kebijakan untuk mengatasi banjir secara benar atau tidak, itu tentu sesuai selera mereka, ya toooh...??!! satujuuuu...
            Sebelum kita ndobos lebih lanjut, marilah buat kesepakatan tentang kata “banjir” itu sendiri.  Kalau menurut saya, ini menurut saya lho.. (tapi anda harus sepakat) pernyataan tentang banjir itu sangat subjektif. Tergantung siapa yang menyatakan. Untuk lebih mudahnya, kita lihat dari sudut pandang manusia sebagai subjek yang menyatakan. Apabila terdapat sebuah genangan air yang tidak berada di tempat yang semestinya, namun tidak sampai mengganggu (atau mengganggu tapi sedikit) kegiatan manusia, maka cukuplah kita sebut genangan. Tapi apabila genangan itu mengganggu hajat hidup manusia, maka itulah yang disebut banjir. Yang terakhir itu bolehlah disebut dengan rob, air pasang, air bah, atau sebutan lainnya sesuai kekhasan di berbagai tempat.
            Setelah kita sepakat mengenai istilah di atas, monggo kita lanjutkan pada waktu terjadinya banjir. Di beberapa tempat di dunia ini ada yang namanya banjir musiman. Untuk yang demikian ini masyarakat relatif enjoy menghadapinya. Yang mau berangkat kerja ya kerja, yang mau sekolah ya tarik maaang..., enjoy lah, karena mereka sudah mengantisipasi banjir jenis ini, sudah hafal jurusnya. Terganggu sih iya, tapi kegiatan jalan terus. Yang biasanya naik mobil mewah ganti pakai kapal pribadi. Yang mahir geber motor jadi luwes ayun dayung. Tentara yang lazim pake MBT, kali ini gagah nangkring di atas tank amphibi. Odong-odong mas? Nggak laku.. soalnya pasti klelep juga, dan sebagainya dan sebagainya.
            Lalu bagaimana dengan banjir non musiman, tapi Mujiman? Lhadalah... ngeledek, wong nama saya Namijum. Itu mah dibalik... bingung, cape’ dueeeckh... haiyyaaaaa...
OK.. OK..
Untuk yang banjir non musiman atau tak terduga, biasanya yang dapat musibah emang sengsara betul. Banjir jenis ini bisa berasal dari air hujan yang super dueres en lama, atau bisa juga dari gagalnya fungsi fasilitas buatan manusia. Di Jakarta pernah terjadi yang seperti ini. Jebolnya tanggul Situ Gintung beberapa tahun lalu contohnya. Efeknya dahsyat. Bayangkan orang lagi enak-enak bobo’, eh.. klelep. Atau misalnya anda sedang nikmat nyeruput Kopi Luwak (asli) yang rasa dan harganya tiada tara, tiba-tiba air bah melanda, masuk di cangkir bercampur dengan kopi nan nikmat, padahal tuh bibir dah monyong ke cangkir... sluurrrph... HUEEKKHHH.. bwueh.. bweh.. Duh, sial nian. Belum lagi kalau sampai harta benda hanyut, jiwa melayang.
            Itu banjir dipelototin dari sudut waktunya. Lalu dari sudut yang lain, semisal lokasi-lokasi tertentu yang secara geografis (atau apalah istilahnya) memang berpotensi akan terjadi banjir. Sebagai contoh adalah daerah aliran sungai (DAS). Wilayah DAS ini berpotensi dilanda banjir lebih besar dibanding tempat lainnya. Kenapa bisa? Ya karena berada di sepanjang aliran sungai, atau sepanjang lembah sungai. Jadi saat sungai meluap maka daerah ini akan tergenang, dan disebut sebagai banjir. Banyak DAS di dunia ini yang memiliki siklus banjir secara alami, mengikuti tinggi rendahnya curah hujan yang terjadi. Pada saat musim penghujan dengan curah yang tinggi, maka di DAS tersebut akan terjadi genangan. Bila DAS itu tidak dihuni manusia maka masih belum disebut banjir. Kenapa? Karena tidak mengganggu hajat hidup manusia. Hal ini mirip dengan keadaan banyak pulau-pulau kecil kosong tak berpenghuni yang timbul tenggelam seiring pasang surutnya air laut. Saat air laut pasang maka pulau kecil tersebut akan tenggelam, tapi tidak akan ada yang mengatakan bahwa pulau itu kebanjiran kan??!! Nah... mungkin juga dulunya saat manusia belum banyak, DAS yang punya jadwal banjir musiman itu tidak berpenghuni. Trus, saat manusia makin banyak, makin butuh tempat, dan pas nggak ada genangan, ada orang datang liat-liat deh.. “Eh, ini tempat bagus buat real estat en kawasan bisnis, mau gue kasih nama STRES”, begitu gumamnya. Dengan kepiawaian lobi sana-sinu, keluar deh ijin pembangunan. Trus nggak lama kemudian muncul celoteh iklan di media, tentang “STRES, kawasan pemukiman dan bisnis siap huni, dengan pemandangan sungai yang elok menghanyutkan, fasilitas komplit, hanya 5 menit ke pusat kotaNG (dalam dongeng ini nama kotanya emang NG, singkatan dari Nieuw Gakarta, itu cuma lupa spasi doank), cocok untuk investasi, khusus hari ini diskon 50%, ayo buruan beli, tinggal 5 biji.... dan bla bla bla blek blik bluk klonthank tlebug!!!!”.
Laluuuuuuu.... setelah pembangunan selesai, fasilitas lengkap, banyak penghuni, kegiatan bisnis lancar, datanglah musim hujan dengan curah yang tinggi.
            Mula-mula para penghuni cuek dengan berita di media bahwa “ketinggian air di pintu air A (Atulampa) melonjak sekian ratus centimeter, masyarakat di sepanjang DAS harap waspada!”. Lalu breaking news, “genangan air mulai memasuki kawasan elit STRES (Special Terrain for Residence and Economic Society – namanya juga kawasan elit, biar ngawur nyang fenting Engglis boo’). Itu para tuan penghuni mulai deh atur sana-sini, perintah mbok bibi emban PRT supaya amankan harta benda.
            “..naik ke loteeeng...!”
            “amankan muataaan, bajak laut mendekaaat... pasang layaaaaar..”
Lalu, semua jadi sibuk.
Presiden sibuk (gulung celana).
Menteri sibuk berkoordinasi, wakil rakyat sibuk sidak (kalau perlu sekalian cermati potensi suara untuk pemilu berikut), Pak Lurah, RT, RW, aparat, sibuk menyalurkan bantuan (kalo nyang beginian mah sibuk beneran, kerja beneran, dalam arti sebenarnya..) 
Para PRT pun sibuk (ini juga sibuk kerja beneran..).

Lalu.. semua sibuk bikin pernyataan di media, dengan teori masing-masing, tentang “bagaimana seyogyanya agar banjir tidak terjadi lagi”.
Tapi umumnya tidak sadar, bahwa banjir juga butuh berekspresi, butuh tampil, butuh diapresiasi, pada tempat dan saat nya yang memang sejak dulu di situ, begitu.

Dan, tadi itu tentang kenapa banjir dari sudut waktu dan lokasi.
Dari sudut yang lain? Penyebabnya?
Mari kita renungkan...

* * *
            “saudara, berikut ini adalah laporan langsung dari kawaan elit STRES, dimana ketinggian banjir saat ini mencapai 2 meter.” Dan untuk mengetahui pendapat warga, kita tanya langsung kepada seorang warga STRES ini”.
            “selamat siang bapak.”
            “ya, selamat siang.”
            “emm.. kalo boleh tau kira-kira apa penyebab banjir ini sehingga luapannya sedemikian tinggi pak?”
            “jelas ini karena sungai meluap, bagusnya sungai itu ditanggul saja, pemerintah tidak peka siiih..”
            “oo.. iya pak, terima kasih pak”.
* * *





Sunday, August 16, 2015

PRIORITAS JENIS KENDARAAN


Tulisan pemikiran ini khususnya ditujukan kepada pemerintah selaku pembuat perencanaan dan kebijakan, buat wakil rakyat yang terhormat, yang bolehlah kiranya sedikit berbesar hati memahami tulisan ini di sela-sela jadwal yang padat, buat rakyat sejawat yang sehari-hari harus unjuk kebolehan di jalanan yang sarat. Dan buat aparat,  yang bagi mereka segala pelanggaran harus disikat.

Bapak Pejabat dan wakil rakyat yang sangat saya hormati, rekan sejawat, serta anggota aparat yang selalu merespon cepat, sebelum berbicara panjang lebar ijinkan saya untuk menceritakan keadaan alat transportasi yang saya miliki. Hal ini juga untuk menjamin objektivitas pemikiran saya dan agar tidak disebut iri karena tidak punya mobil. Keluarga saya terdiri dari empat orang yaitu saya sendiri, istri dan dua orang anak. Sedangkan kendaraan terdiri dari satu unit mobil sedan merk ADNOH (gunakan spion please..) warna putih, mobil ini cantiknya bukan main Pak, nyaman empuk eyup, ACnya suejuk, kaga’ malu-maluin di jalan dah pokokna, lalu dua unit sepeda motor; satu transmisi manual satu lagi matic, terus satu unit sepeda BMX, satu unit sepeda MTB NOGYLOP (lagi-lagi pakai spion please..), satu city bike juga NOGYLOP, dan satu lagi sepeda tua merk entahlah, sepeda pos, pemberian dari Bapak saya yang didapat beliau saat masa-masa awal berdinas sebagai pengantar surat di Kantor Pos Yogyakarta era 70an.

Khusus untuk mobil putih cantik tadi, kondisinya JARAN NGAMPET alias JARANg dipakai kecuali kondaNGAn Mantenan atau kepePET. Dipakai kondangan mantenan karena sekeluarga ikut, kepepet karena misalnya sekeluarga besar sowan ke mBah Buyutnya anak-anak yang memang masih sugeng dan alhamdulillah sehat wal afiat. 

Sekarang masuk ke topik pembicaraan tentang kondisi lalu lintas dan jalan raya di negara kita, terutama di kota-kota besar yang padat dan sering macet. Penyebabnya dapat diketahui dengan logika yang sangat sederhana, yaitu : dengan kondisi dan kebijakan pemerintahan yang sudah-sudah, pertambahan jumlah kendaraan selalu lebih cepat daripada pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan.

Dan, padune (kata dalam Bahasa Jawa, padanan dalam Bahasa Indonesia tidak ada yang pas) masyarakat yang merasa kaya (buktinya punya mobil pribadi) tidak mau beralih menggunakan kendaraan roda dua karena gengsi, wacana di masyarakat seakan diarahkan bahwa yang lebih memacetkan adalah sepeda motor, yang notabene merupakan kendaraan roda dua (KR-2) yang hemat ruang. Hemat ruang di jalan dan di parkiran.
Bahkan selama ini kesan negatif pengendara sepeda motor lebih sering ditonjolkan, yang ugal-ugalan lah (sifat pengendara, pengemudi mobil yang begini juga sak bajeg), yang sering naik trotoar (karena di jalan penuh mobil), menyalib lewat kiri lah (mau gimana lagi, lha tuh mobil jalannya pelan di tengah, sopirnya main gadget, mau menyalip lewat kanan terlalu beresiko, mau diikuti di belakang kok  nggak nyampe-nyampe), balik arah sembarangan (mobil tidak dianggap sembarangan karena dibantu Pak Ogah, padahal saat belok lebih bikin macet), dan sebagai-bagainya.

Berikutnya, sebagai makhluk yang dikaruniai akal, marilah kita coba renungkan dengan kepasrahan jiwa, ikhlas, sabar, adil, jauhkan emosi dan gengsi, dan sejujur-jujurnya. Berpijak pada kenyataan bahwa benda yang disebut “lebih besar” adalah benda yang menempati ruang yang lebih besar pula. Ini adalah kenyataan tak terbantahkan. Demikian juga dengan konsumsi ruang di jalan raya. Semakin besar kendaraan maka semakin besar pula kebutuhan ruang baginya. Mobil pribadi berukuran lebih besar daripada KR-2, memakan ruang yang lebih besar di jalan raya. Parahnya lagi bahwa besarnya konsumsi ruang di jalan tidak diimbangi dengan pengisian kapasitas. Jarang-jarang mobil pribadi yang terisi setengah dari kapasitasnya.
Kalau KR-2 dianggap sebagai biang kemacetan, coba bayangkan bila suatu hari di wilayah DKI Jakarcha, misalnya tanggal 1 semua orang yang akan bepergian disuruh memakai mobil pribadi, lalu hari berikutnya (tanggal 2) semua orang disuruh memakai KR-2, lalu bandingkan kondisi dari dua hari itu, kalau berpikirnya logis dan ikhlas, kita akan mengatakan bahwa hari pertama, yaitu di tanggal 1, banyak orang mengeluh terlambat masuk kerja, bahkan tidak jadi masuk kerja, bersalin di jalan, tidur hingga bangun lagi di jalan, buang air di jalan, berkelahi di jalan, menagih utang di jalan, akad nikah di jalan (dilakukan via telepon mungkin), atau membangun rumah di jalan (terlalu lama di mobil sampai-sampai mobil dianggap sebagai rumah, lalu dilengkapi dengan kompor, MCK, jemuran baju, eskalator dan lain-lain), atau juga mati di jalan (karena stress berat).

Lalu bagaimana pendapat anda di tanggal 2?



“Oooh lancar jayaaaa...”.

“O iya, kmaren tanggal dua bisa berangkat kerja sekalian antar anak ke sekolah, soalnya waktu mau berangkat liat ke jalan kok kaya’nya lancar banget gitu, eh.. pas pulangnya mampir di sekolah lagi ternyata pas jam selesai pelajaran, ya udah akhirnya pulang sama-sama”.

“Ehmm.. gua brangkat sekolah ama emak gua, seneng banget soalnya bisa anter emak ke pasar, trus dapet tambahan goceng, kan lumayan tuh.. he he..”

“Duh ngeri deh mas.. pas liat ambulan kenceng bener, mungkin gawat darurat kali ye?”

“Lumayan bang, nyang parkir motor semue, ni parkiran muat lebih banyak, otomatis kantong makin tebel deh.. hok hok ohok ohok hueeek juuh.. (suara parau, mungkin sedang batuk pilek).

“Kita berusaha semaksimal mungkin melayani masyarakat, dan kali ini meluncur ke TKP secepat kilat, biasanya macet. Krrk.. krrk.. kucing satu harap siaga krrk.. krrk.. Siap ndan, lapan nam”

“Lhe kalo bhegini terus saye suke mes, bagemane ye ngomongnye, pokoknye lancher leh, temen-temen ojhek jughe bheghitu bhilangnye, pelanggen jughe kagek ngomel, soalnye ken cepet ampe tujhuen ghitu” (maksudnya begini : “Lha kalau begini terus saya suka mas, bagaimana ya ngomongnya, pokoknya lancar lah, teman-teman ojek juga begitu bilangnya, pelanggan juga kagak/nggak ngomel, soalnya kan cepat sampai tujuan gitu”. Ini tukang ojek rupanya dari Jawa baru di Jakarta, jadi semua bunyi “a” di dekat akhir kata diganti dengan bunyi “e”, biar mirip orang Jakarte katenye)

Bagaimana dengan konsumsi BBM?
Dengan teknologi yang sama, jarak tempuh yang sama, tentu KR-2 lebih hemat dibanding mobil, jauh lebih hemat. Kenapa demikian? Ya karena KR-2 mesinnya lebih kecil, minum BBM lebih sedikit. Secara detail teknis hal ini bisa ditanyakan kepada siswa STM jurusan otomotif, nggak usah kepada gurunya, nggak usah kepada dosen fakultas teknik jurusan mesin di banyak universitas-universitas ternama di negeri ini. Tidak usah pula diperdebatkan di televisi dengan menghadirkan pakar mesin dan transportasi. Ini pertanyaan sepele-pelenya.
Belum lama lalu kelangkaan BBM sempat mendera masyarakat. Mereka rela antri demi setuang BBM, sampai-sampai ada kejadian orang antri BBM salah jalur, tidak dilayani, lalu emosi, lalu ngomong di media sosial dan bikin emosi masyarakat, terus disidang di sekolahnya, lalu dapat sanksi.
Jika kita ingin menghemat BBM, tentunya gunakanlah kendaraan hemat BBM, salah satunya adalah dengan menggunakan KR-2, bisa sepeda motor, bisa juga sepeda kayuh. Yang terakhir itu iritnya tak tertandingi seperti iklan di TV.

Kembali lagi ke jalan. Bila kita perhatikan di persimpangan jalan yang dilengkapi dengan lampu pengatur lalu lintas, saat lampu merah berganti hijau maka sepeda motor akan melaju lebih cepat dibanding mobil, bahkan meliuk di sela-selanya. Kenapa hal itu terjadi? Karena akselerasi sepeda motor saat itu lebih besar daripada mobil. Ini terjadi mungkin karena sepeda motor lebih ringan, atau karena pengendalian motor lebih sederhana dan mudah, atau mungkin juga karena motor lebih kecil?!!! Sehingga pengendaranya cukup lihat depan dan sedikit lirik kanan kiri maka keadaan sekitar sudah cukup terkuasai, lalu tancap gas. Lain halnya mobil, tengok kanan kiri, perhatikan spion kanan kiri, lihat depan, kanan kiri lagi, dan lagi, dan lagi, belum lagi urusan dengan hand brake.
Anda ingin segera bebas dari keruwetan semacam ini? Gunakan sepeda motor!

Di musim kemarau, pemandangan lazim di jalan adalah debu yang bercampur dengan asap knalpot yang menyesakkan dada. Pengalaman yang paling menjengkelkan adalah saat kita melaju di belakang mobil di jalan yang tak terlalu lebar. Ketika sesama mobil berpapasan dan roda kiri harus keluar aspal, mencakar tanah kering dan menghamburkan debu ke udara, maka kita jua yang menjadi konsumen debu “segar” itu. Segar dalam arti baru saja diproduksi, tapi eneg di hati.
Lalu pernahkah anda punya pengalaman dengan genangan air di jalan? Ini biasanya terjadi di musim penghujan. Saat hujan atau sesudahnya, jalan yang berlobang menjadi tempat genangan air yang potensial sebagai “sumber irigasi” yang efektif bagi pihak di dekatnya, termasuk pengguna jalan lainnya. Saat terlindas roda kendaraan, fungsi “pengairan” pun berjalan. Air nyiprat sejadi-jadinya. Volume cipratan berbanding lurus dengan besarnya genangan, lebar ban dan kecepatan kendaraan. Nah.. lagi-lagi ukuran kendaraan pegang peranan dalam mengancam kenyamanan. Dan, juga peranannya dalam merusak jalan hingga menghasilkan cekungan genangan itu tadi. Jadi pilih mana? Apakah anda suka perjalanan berdebu atau berkubang, atau perjalanan yang mulus segar dan sejuk tanpa ancaman air comberan?

Dalam benak kita, mungkin ada pemahaman bahwa besar sama dengan cepat. Pesawat terbang yang lebih besar terbangnya lebih cepat. Dalam dunia balap Moto GP pun demikian, makin tinggi kelasnya, makin besar mesinnya, makin tambun motornya, makin cepat larinya. F1 pun sama, dia lebih bongsor dibanding gokart, maka larinya pun lebih dahsyat. Dan pemahaman ini kita bawa saat mencari jenis kendaraan yang akan kita gunakan untuk kegiatan harian, yang penggunaannya adalah di jalan raya. Padahal dari semua kendaraan idola tadi tak satupun yang pernah merajai jalanan. Belum pernah terbukti kehandalannya dalam mengantarkan pemiliknya membelah kemacetan ibu kota misalnya, atau menjadi juara dalam lomba akselerasi di lampu merah. Semua hidup di habitatnya, dengan kondisi yang dirancang memang khusus untuk mereka.
Sedangkan di jalan raya? Di tempat kita ini, jalan raya masih merupakan ajang pembuktian prestasi berkendara sejati. Tantangannya jauh lebih hebat daripada di lintasan balap. Para pekerja dan pelajar berangkat pagi pulang siang atau sore. Ibu-ibu berbelanja atau antar jemput anak sekolah. Dan lain sebagainya, tanpa ada bendera kuning, safety car, umbrella girl, pit stop, wearpack, sliding pad, asuransi juga belum tentu ada, dan etc etc.. dan selalu saja ada pihak yang egois, maunya meniru para idola-nya tanpa merenung dan menyadari bahwa yang akan dihadapi adalah jalan raya yang menampung bermacam jenis kendaraan, dengan manuver dan tujuannya masing-masing.
Mengingat kondisi lalu lintas yang cenderung makin padat dan konsumsi BBM serta polusi yang kian meningkat, pola pikir yang menganggap besar sama dengan cepat sudah saatnya kita pertimbangkan kembali. Sekarang mari bayangkan andaikata kita mengendarai sepeda kayuh atau sepeda motor bermesin 100cc saat berada di jalan yang lalu lintasnya padat. Adakah di sana pengemudi mobil, atau sepeda motor dengan kapasitas mesin besar, di atas 150cc misalnya, dapat melesat dan memanjakan raungan knalpotnya, lalu sesaat kemudian punggungnya lenyap dari pandangan kita, adakah seperti itu? Rasanya tidak juga, malah kemungkinan besar punggung itu akan terus menjadi pemandangan yang kita nikmati hingga perjalanan lancar kembali, dan itu mungkin berarti kita telah berada di gerbang masuk kantor kita masing-masing.
Makna dari gambaran situasi di atas adalah bahwa dengan mesin yang lebih besar (konsumsi BBM lebih boros tentunya) tidak ada jaminan bagi kita untuk mencapai waktu tempuh yang lebih singkat, Bagaimana dengan kendaraan yang lebih besar? Anda mungkin tahu jawabannya..

Menggunakan kendaraan yang lebih kecil juga menambah keuntungan bagi tukang parkir, karena tempat untuk satu mobil bisa diisi dengan paling sedikit empat KR-2. Tarif parkir umum di Yogya sekarang (Agustus 2015) satu mobil Rp. 2000,- sedangkan KR-2 Rp. 1000,-. Malah di beberapa tempat KR-2 nya bisa dipadatkan jadi lebih dari empat unit pada luasan tempat parkir yang sama. Silakan hitung selisihnya. Dan bagi para juru parkir, monggo layani pengguna KR-2 dengan sepenuh hati, dari merekalah rezeki datang lebih banyak tanpa teriak-teriak “kiri kanan balas lurus yaaak hooopp... jangan di handbrake ya Boos...” Belum lagi saat mobilnya mau keluar di jalan yang ramai, masih pakai acara balik arah lagi, beri aba-aba lagi, atur lalu lintas... pusyiiing...

Lalu.. kita di pihak mana? Mau jadi pihak penambah ruwet jananan? Atau warga negara yang baik, yang menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan?
Monggoooo...
Atau para pemikir, para peneliti, penentu kebijakan, mau tergerak hatinya untuk peduli..

Monggoooo jugaaaa...

Saturday, January 18, 2014

Jenis Peluru Senapan Angin

Peluru Senapan Angin (PSA)

Dari Wikipedia, the free encyclopedia


Dari kiri ke kanan, flat (datar), dome/round head (kubah/kepala bulat), hollow point (ujung berlesung) dan pointed pellets (peluru runcing). Baris atas kaliber .22 (5.5 mm), dan bawah kaliber .177 (4.5 mm).


Peluru senapan angin (PSA) pada umumnya, adalah sebuah non-spherical projectile atau projectile yang tidak berbentuk bulat, yang dirancang untuk ditembakkan dengan senapan angin. Meski tidak selamanya PSA berbentuk demikian. PSA berbeda dengan peluru pada senjata api karena tekanan yang digunakan; senjata api beroperasi pada tekanan ribuan atmospheres, sedangkan senapan angin beroperasi pada tekanan sekitar 50 atmospheres. Senjata api memiliki tekanan yang cukup untuk menekan peluru dengan ukuran sedikit lebih besar daripada lop laras untuk masuk ke dalam lop laras tersebut guna menghasilkan suatu ruangan yang rapat, sedangkan senapan angin umumnya menggunakan PSA dengan ukuran sedikit lebih kecil yang dirancang untuk menyekat laras senapan dan bergerak mengikuti alur dalam lop senapan (rifling). Terdapat juga PSA yang dapat ditembakkan dengan smoothbore barrel (laras lop polos), yang demikian ini dirancang agar lebih stabil, seperti Foster slugs yang digunakan pada shotgun berlop polos.


"Diabolo," sering disebut wasp waist pellet (peluru berpinggang) adalah yang paling banyak ditemui saat ini. PSA diabolo dapat berjenis datar, kubah, ujung berlesung atau runcing, dengan pinggang besar maupun kecil. Dari pinggang ke belakang berbentuk corong dan akan mengembang pada ukuran maksimal karena tekanan saat ditembakkan. Pada bagian kepala atau bagian padat di depan pinggang biasanya dibuat dengan ukuran pas dengan lop laras sekedar untuk dapat menyentuh rifling. Hal ini untuk menjaga posisi PSA tetap dalam jalur sumbu laras dengan tetap meminimalkan gesekan. Namun demikian gesekan tetap diperlukan guna menjaga PSA tetap pada posisinya hingga piston/hammer memukul klep udara, dan mengirimkan aliran udara bertekanan tinggi untuk meluncurkan PSA. Corong PSA dirancang tipis, dan terbuat dari bahan yang mudah tercetak, biasanya timah hitam, walaupun tersedia juga bahan alternatif lain yang tidak beracun semisal timah atau bahkan plastik. Ketika ditembakkan, corong akan mendapat tekanan udara dan mengembang memenuhi lobang laras, hal ini berlaku sebagai sebuah sekat udara yang baik, dan PSA pun meluncur di dalam lop sekaligus berputar mengikuti rifling. Pada lop polos, corong juga mengembang sebagai sekat, namun karena tidak adanya rifling maka PSA pun tidak berputar, dan ini menjadikannya kurang akurat. Dalam beberapa kasus pada jenis ini, kepala padat di depan dan corong di belakang akan bermanfaat dalam mencegah PSA bergerak jungkir balik. Namun demikian, masalahnya bukan selalu yang seperti ini, dan pada beberapa jenis PSA tetap akan jungkir balik saat melesat dan seakan menghindar untuk mengenai sasaran. Anda akan mengetahui hal ini saat mengalaminya sendiri karena PSA tidak akan membuat lobang yang bersih dan bulat pada kertas sasaran, namun justru akan membuat lobang mirip lobang kunci dengan tepi yang semrawut.


PSA, pada kondisi alaminya, dirancang untuk melesat pada kecepatan subsonic. Kecepatan tinggi dapat menyebabkan PSA berubah bentuk, bahkan pecah ketika melesat. Transisi dari supersonic ke subsonic menyebabkan sebagian besar PSA jungkir balik. Makin dekat kecepatan PSA terhadap kecepatan suara, menjadikan PSA juga makin tidak stabil. Beberapa produsen menanggapi hal ini dengan membuat PSA yang lebih berat untuk digunakan pada senapan angin bertenaga lebih kuat. PSA ini melesat pada kecepatan yang semakin rendah, karena bobotnya yang lebih berat membuatnya tidak hanya lebih akurat tapi juga lebih mematikan sejalan dengan energy kinetiknya yang lebih besar.


 Penggunaan dalam pertandingan menembak

PSA diabolo 4,5 mm (.177 in) khas pertandingan


 PSA diabolo pertandingan, digunakan pada pertandingan menembak kelas senapan angin 10 meter dan pistol angin 10 meter. PSA kaliber 4,5 mm (.177 in) tersebut memiliki apa yang diketahui sebagai wadcutter heads, yang berarti ujungnya (hampir) datar/rata, yang meninggalkan lobang yang bersih dan bulat pada kertas sasaran. PSA pertandingan dibuat dari timah dan dikemas secara lebih hati-hati untuk menghindarkannya dari perubahan bentuk dan kerusakan lainnya, yang dapat mengurangi tingkat akurasi.Seorang peserta pertandingan menembak diijinkan melakukan uji pengelompokan perkenaan tembakan dengan senapan mereka yang tertumpu pada penyangga tetap dalam rangka menentukan jenis PSA mana yang memberikan hasil terbaik bagi senapan mereka. Untuk memberikan performa maksimum PSA yang akan ditembakkan dari berbagai macam senapan angin, pabrik-pabrik besar pembuat PSA pertandingan memproduksi PSA dalam berbagai variasi bobot (varian ringan/kecepatan tinggi biasanya digunakan untuk pistol angin) dan variasi “ukuran kepala” (head size), artinya PSA memiliki diameter depan dari 4,48 mm hingga 4,52 mm. 


Ragam Peluru Senapan Angin
Pertama yang harus dipahami adalah perbedaan antara diabolo dan bentuk peluru senapan angin (PSA) lainnya. Diabolo memiliki pinggang dan corong berongga/tidak pejal padat, yang mana akan menghasilkan sekat udara saat berada dalam laras. Selain dari putaran yang disebabkan oleh rifling, bentuk pinggang dan corong tersebut juga memberikan tambahan kestabilan terhadap PSA untuk akurasi yang lebih baik, sementara akurasi dan kestabilan PSA non diabolo hanya tergantung pada putaran yang dihasilkan oleh rifling. Tulisan berikut mengulas tentang PSA bentuk diabolo dan bulat.


a. Wadcutter/Kepala Datar Wadcutter memiliki kepala hampir datar dan menghasilkan lobang bulat sempurna pada kertas sasaran. PSA tipe  ini digunakan secara eksklusif pada kompetisi menembak 10 meter dan akan sangat baik digunakan pada senapan angin kecepatan rendah dan untuk kegiatan berburu jangkauan pendek (hingga 20-an meter). Untuk jangkauan di atas 25 meter akurasi wadcutter akan mulai kacau. Beberapa model PSA lainnya seperti Beeman Ram Point dan RWS Super-H-Point, menggabungkan bentuk wadcutter dalam tipe-tipe PSA yang berbeda (kubah dan ujung berlesung).

Wadcutter berkepala datar, dari kiri ke kanan : Gamo Match, H&N Finale Match dan RWS R10 Match. Semua dalam kaliber 4,5 mm/ .177.


b. Dome / Kepala Kubah Seperti namanya, PSA ini memiliki kepala berbentuk kubah. Tipe PSA ini memiliki aerodinamika yang sangat baik dan digunakan pada tembak target lapangan, berburu dan kegiatan menembak umum lainnya. Baik untuk senapan dari bermacam-macam tingkat kekuatan.

PSA Kepala Kubah dengan berbagai variasi bentuk. Dari kiri adalah Crosman Premier 7.9-grain, JSB Diabolo Exact 10.2-grain dan Eley Wasps. Semua dalam caliber 4,5 mm/.177.

 


c. Hollowpoints / Ujung Berlesung Sekali lagi nama menggambarkan bentuk, PSA dengan kepala yang memiliki lesung dan tetap pula terdapat variasi pada bentuk ini. Tujuannya adalah PSA akan mekar segera setelah keluar dari laras senapan, dan ini adalah 100 persen PSA berburu. Akurasi biasanya mulai kacau setelah 23 meter jika Si Lesung ini merupakan PSA yang mekar efektif seketika saat keluar dari laras. Sementara pada PSA yang gagal mekar justru memiliki akurasi dalam jangkauan yang lebih jauh.

Si Lesung dirancang untuk dapat segera mekar sesaat setelah keluar dari laras. Dari kiri adalah RWS Super-H-Point, JSB Predator dan Beeman Crow magnum. RWS dan JSB pada kaliber 4,5 mm/ .177, sedangkan Beeman berkaliber 5,5 mm/ .22.


d. Pointed Pellet / Kepala RuncingDirancang memiliki daya tembus yang tinggi. Bagi kebanyakan orang, Kepala Runcing terlihat streamlined atau berhambatan udara rendah. Pada kecepatan subsonik ideal dimana senapan angin beroperasi, bentuk ini ternyata tidak memberikan keuntungan. Biasanya, pada jarak jauh PSA Kepala Runcing ini tidak seakurat PSA Kepala Kubah.

Kepala Runcing dirancang  untuk mencapai daya tembus yang tinggi. Cincin yang ada pada Beeman Silver Jet tidak menghasilkan apapun bagi performanya. Dari kiri adalah Daisy Precision Max Pointed, RWS Superpoint dan Beeman Silver Jet. Semua pada kaliber 5,5 mm/ .22.

e. Bola Timah
Bola timah superior dalam hal daya tembus dan dapat sangat akurat pada beberapa senapan. Karena jenis ini berukuran tepat sama dengan ukuran lobang laras, maka dapat dipastikan aman bila digunakan pada sebagian besar senapan angin. Pengguna senapan angin bermagasen mungkin akan mengalami kesulitan dengan jenis PSA ini kecuali bila telah dirancang sebelumnya, seperti misalnya Drozd Submachine Gun. Bola Timah ini dapat juga digunakan pada beberapa senapan BB (Ball Bearings) model lama. Karena bentuknya yang bulat maka tidak ada pilihan bobot. Kaliber 4,5 mm/.177 ball berukuran 8.1 grains dan untuk kaliber 5,5 mm/.22 ball berukuran 15.1 grains.

Bola tetaplah bolal! Berdaya tembus dahsyat. Dari kiri adalah  Gamo round ball, Beeman Perfect Round dan Lobo round ball. Gamo dan Beeman berkaliber 4,5mm/ .177. sedangkan Lobo 5,5 mm/ .22.


f. PSA LangkaSelalu ada yang berbeda di luar sana, dan anda akan menemukan beberapa PSA yang asing. Kami memasukkannya dalam katagori PSA langka dan sepertinya PSA jenis ini sangat jarang dipakai untuk jenis kegiatan apapun.

Dua PSA langka ini adalah Gamo Rocket (kiri) dan Gamo Raptor. Jenis PSA langka ini sangat jarang digunakan dalam kegiatan menembak, walaupun pada beberapa jenis senapan PSA ini menghasilkan kecepatan yang baik.